Shalom!
Sebagai orang Kristen, pada umumnya kita tidak asing dengan penggunaan salam ’Shalom’ kepada sesama anak-anak Tuhan. Shalom artinya damai sejahtera. Saat mengucapkan salam tersebut, apakah kita sudah benar-benar memahami makna apa yang terkandung di dalamnya?
Di dalam injil Yohanes 20:19-22, Yesus berkata: ”Damai sejahtera bagi kamu!” Salam tersebut disampaikan Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya, setelah Dia bangkit. Pada waktu itu hanya berkumpul 10 orang murid, karena Yudas sudah mati dan salah seorang murid Yesus bernama Tomas tidak hadir. Setelah menunjukkan luka-luka yang diderita-Nya di kayu salib, kemudian Yesus berkata sekali lagi: ”...Damai sejahtera bagi kamu! Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu." Inilah makna yang terkandung di dalam ucapan ’Shalom’ tersebut. Suatu pengutusan! Tuhan Yesus mengutus murid-murid-Nya supaya meng-estafet-kan damai sejahtera kepada orang lain, sama seperti Allah Bapa telah mengutus-Nya.
Marilah kita merenungkan, apakah saat ini kita hanya mau menerima damai sejahtera dari Tuhan saja, namun kita tidak terbeban untuk mengambil bagian di dalam menjalankan apa yang telah ditugaskan oleh Bapa Surgawi kita? Artinya kita tidak mau bergerak ke luar gereja untuk memberitakan atau mengestafetkan ’Shalom’ tersebut kepada orang lain? Apakah kita hanya berani mengucapkan ’Shalom’ dengan nyaring di dalam gedung gereja, tetapi di luar lingkungan gereja kita hanya mengucapkan ’Shalom’ secara terbatas, berbisik karena takut terdengar orang lain? Bukankah kita diberi tugas oleh Yesus untuk memberitakan ke semua orang, apa arti kata ’Shalom’? Sadarlah, bahwa kata ’Shalom’ berhubungan erat dengan misi Yesus!
Di dalam bahasa Yunani, selain berarti damai sejahtera, ’Shalom’ juga mengandung arti kerukunan, dan berakar dari kata:
mau bersatu. Itulah arti ’Shalom’ yang kita ucapkan, harus disertai dengan suatu beban dalam hati akan adanya suatu kerinduan dan kemauan untuk bersatu, bekerja sama dengan orang yang kita beri salam! Tidak sekedar ucapan salam biasa!
Ingatlah, bahwa Yesus adalah pribadi Firman Allah! Jika Yesus mengucapkan kata itu kepada murid-murid-Nya, pasti mengandung makna yang sangat dalam, sebab Yesus menyatakan bahwa Dia telah memberikan damai sejahtera-Nya kepada mereka!
Tugas mengestafetkan damai sejahtera diberikan, karena Tuhan merindukan supaya seluruh umat manusia di dunia memiliki damai sejahtera! Kita harus memiliki kerinduan yang sama seperti Tuhan Yesus, yaitu supaya orang-orang di sekitar kita merasakan damai sejahtera, bahkan seluruh Indonesia bisa mengalami damai sejahtera!
Seharusnya, di tempat di mana permasalahan terjadi di situlah kita sebagai anak-anak Tuhan hadir membawa pesan damai dari Tuhan! Bukan malah memperkeruh keadaan yang sudah kacau. Ini merupakan teguran yang keras bagi kita! Bagaimana makna kehadiran kita di lingkungan sekitar kita? Apakah kita membawa damai sejahtera dari Tuhan atau malah menghilangkan damai sejahtera itu? Kata ’damai’ juga memiliki pengertian membebaskan atau dihindarkan dari konflik! Seharusnya di tempat-tempat yang terjadinya suatu konflik atau permasalahan, jika anak-anak Tuhan atau hamba-hamba Tuhan muncul, konflik itu bisa diredakan sehingga terjadi ketenangan atau ketenteraman.
Kita telah tahu bahwa saat pertama kali Tuhan Yesus memberikan salam ’Shalom’ kepada murid-murid-Nya, Tomas tidak hadir. Tentu murid-murid lainnya kemudian menceritakan kepada Tomas tentang pengalaman mereka menerima kata ’Shalom’ sebanyak dua kali dari Tuhan Yesus, serta menerima hembusan Roh Kudus. Suatu pengalaman luar biasa yang tidak dialami Tomas.
Perhatikan bahwa Tomas memang sering dianggap bersikap tidak atau kurang memiliki iman, namun kita juga harus mengakui bahwa ada suatu sikap yang baik dari Tomas, yaitu dia tidak mudah percaya, tidak mudah ikut-ikutan orang lain! Tomas berkata kepada mereka, "Sebelum aku melihat bekas paku pada tangan-Nya dan sebelum aku mencucukkan jariku ke dalam bekas paku itu dan mencucukkan tanganku ke dalam lambung-Nya, sekali-kali aku tidak akan percaya."
Terjadilah pertemuan kedua dengan Yesus yang telah dibangkitkan, dimana Tomas ikut hadir, seperti tertulis di dalam
Yohanes 20:26-28. Yesus kembali hadir di tengah-tengah mereka dan menyampaikan kata ’Shalom’ kepada mereka.
Kemudian Yesus mempersilakan Tomas melakukan apa yang dapat membuatnya percaya bahwa Yesus benar-benar bangkit. Tomas akhirnya percaya bahwa Dia adalah Tuhan Yesus yang telah bangkit. Selanjutnya Yesus menyatakan berbahagialah mereka yang percaya walau tidak melihat. Kita juga termasuk orang-orang yang berbahagia, sebab kita percaya kepada Yesus walau kita tidak melihat wujud fisik-Nya!
Kata ’di antara mereka’ atau ’di tengah-tengah mereka’, seperti yang tertulis dalam ayat-ayat di atas, mengingatkan kita bahwa Allah pernah menggunakan kata-kata ini ketika Dia memerintahkan Musa membangun dan mendirikan Tabernakel! Allah rindu supaya Ia dapat berada di tengah-tengah atau di antara umat Israel. Hal ini menunjukkan suatu posisi sentral, pusat, tidak memihak atau netral. Tuhan memilih kata ini untuk menunjukkan bahwa dalam memberikan damai sejahtera-Nya, Tuhan tidak pilih kasih. Siapapun juga, di manapun posisinya di atas permukaan planet Bumi ini, di sebelah Barat, Timur, Utara atau Selatan, semuanya menerima damai sejahtera dari Tuhan Yesus!
Tuhan Yesus merasa perlu tampil kembali, karena Dia tidak menghendaki Tomas sebagai bagian terkecil dari kelompok itu terluput dari salam ’Shalom’, yang sebelumnya telah diberikan-Nya kepada murid-murid yang lain! Tuhan Yesus merindukan supaya Tomas juga menerima hal yang sama, yaitu damai sejahtera-Nya! Kalau tidak, maka Tomas bisa menjadi penghalang rencana Allah.
Bukankah kita semua memiliki iman yang sama, bahwa Yesus telah mati dan bangkit? Masihkah kita memikirkan dan menaruh perhatian kepada anggota tubuh Kristus yang lain, atau orang-orang lain yang masih meragukan kebangkitan-Nya? Perhatikanlah bahwa pada pertemuan yang kedua ini, Tuhan Yesus tidak berbicara kepada Petrus, Yohanes, atau murid-murid lainnya, yang ada pada kehadiran-Nya saat pertama itu, dan sudah menerima damai sejahtera serta urapan Roh Kudus-Nya. Yesus hanya berkata-kata kepada Tomas! Inilah bentuk nyata perhatian Tuhan Yesus kepadanya.
Tomas akhirnya mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan dan Allahnya. Respon semacam ini yang Tuhan harapkan terjadi saat ’Shalom’ itu disampaikan. Hal ini juga harus kita pertanyakan kepada diri kita, menjadi suatu tantangan, ”Apakah kita juga berhasil menyampaikan kepada orang-orang di sekitar kita bahwa Yesus adalah Allah dan Tuhan kita?” Suatu pengakuan yang diucapkan bukan hanya di dalam gereja dan di lingkungan orang-orang percaya atau orang Kristen saja! Apakah orang lain juga memberikan respon yang sama atau positif?
Beberapa waktu sebelum disalibkan, Yesus sudah menggunakan kata ’Salam Damai’, dan mempercayakannya kepada para murid-murid, seperti tertulis di dalam injil Matius 10:12-13,16 (bnd. Lukas 5:10). Di dalam bahasa Indonesia diterjemahkan dengan kata ’salam’, sedangkan dalam bahasa Yunaninya menggunakan kata ’damai sejahtera’.
Sesuai dengan artinya, maka jika kita menyampaikan ’Salam Damai’ kepada orang-orang yang kita temui, dan mereka layak menerimanya, maka persatuan dan kerukunan pasti terjadi! Itulah misi yang Tuhan Yesus percayakan kepada kita, anak-anak Tuhan, hamba-hamba Tuhan! Menyampaikan firman Tuhan, menyampaikan salam damai yang menghasilkan suatu persekutuan dan kesatuan di dalam Tubuh Kristus!
Perhatikanlah bahwa Yesus menyatakan jika mereka layak menerima salam kita, maka damai sejahtera menjadi milik mereka. Namun bagaimana jika mereka menolak salam kita? Firman Tuhan dengan tegas menyatakan bahwa, ”...jika tidak, salammu itu kembali kepadamu...” Ini seharusnya menjadi praktik kita, jika ’salam damai’ kita ditolak orang lain! Yaitu, kita tetap mengalami damai sejahtera, bukan malah sebaliknya kita menjadi kecewa, patah semangat, marah, dan melakukan hal-hal yang negatif! Seringkali kita tidak siap menerima kegagalan, kemudian mewujudkan kekecewaan dengan tidak mau beribadah lagi, tidak mau bersekutu dengan sesama anak Tuhan atau hamba Tuhan, mungkin pindah gereja lain, atau bahkan berani membangun gereja sendiri atau membuat organisasi gereja baru. Damai sejahtera, itulah kata kuncinya! Diterima atau tidak pemberitaan salam kita, kita seharusnya tetap merasakan damai sejahtera!
Kita menjadi saksi, bahwa walaupun manusia sering mengalami kegagalan di dalam mempraktikkan perintah dan ajaran Tuhan Yesus (ingat kegagalan Petrus, dan murid-murid lain yang meninggalkan-Nya), namun damai sejahtera Yesus yang dititipkan kepada murid-murid-Nya tidak pernah mengalami kegagalan! Tidak pernah gagal! Mengapa? Sebab damai sejahtera itu adalah wujud pribadi Allah sendiri!
Sejak kapankah damai sejahtera itu hilang dari kehidupan manusia? Jawabannya adalah sejak manusia jatuh ke dalam dosa! Namun kita patut bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan, jika demi mengembalikan manusia ke dalam ’damai sejahtera’ dengan Allah, maka Dia rela mengorbankan Putra Tunggal-Nya, untuk menebus dosa umat manusia! Lewat kematian Yesus Kristus di atas kayu salib, manusia kembali memperoleh damai sejahtera yang sejati!
Jauh sebelumnya, Tuhan Yesus katakan bahwa murid-murid akan mengalami kesusahan selama hidup di dunia, namun jika mereka percaya pada-Nya, maka Yesus tetap tinggal di dalam mereka, sehingga pasti ada damai sejahtera di dalam hidup mereka!
Namun murid-murid belum memahami ucapan Yesus pada waktu itu.
Saat Yesus bangkit, kepada seorang wanita Dia juga mengucapkan kata yang juga mengandung arti damai sejahtera.
Bukan kepada laki-laki, karena laki-laki seringkali tidak percaya oleh sebab selalu pakai rasio atau akal. Matius 28:1-10 menulis peristiwa tersebut. Bahkan setelah menerima salam damai dari Yesus yang dibangkitkan, mereka kemudian menyembah dan memeluk kaki Yesus! Mereka dipercaya untuk memberitakan kebangkitan Yesus. Luar biasa!
Firman Tuhan menyebutkan bahwa suatu saat kelak, damai sejahtera akan diambil dari muka bumi (Wahyu 6:1,3-4).
Dari ayat-ayat di kitab Wahyu tersebut banyak muncul berbagai tafsiran atau pengertian tentang kapan dan bagaimana damai sejahtera diambil dari Bumi. Bagi kita, apakah harus menunggu nubuatan di kitab Wahyu tersebut terlaksana, kemudian kita menerima hal itu sebagai hal yang sudah seharusnya terjadi? Artinya kita merasa wajar kalau harus terjadi pertengkaran antara sesama anggota Tubuh Kristus? Tidak!
Kita harus ingat bahwa setiap hari kita menghadapi peperangan rohani. Musuh kita bukanlah darah dan daging, tetapi setan dan roh-roh jahat di udara. Untuk itu kita perlu menggunakan senjata-senjata rohani (Efesus 6:10-11, 14-15). Salah satu peralatan perang rohani kita adalah: memakai sepatu kerelaan memberitakan Injil Damai Sejahtera! Kita menginjil sambil berperang melawan Iblis. Inilah yang menjadi pelindung kaki-kaki kita dalam berjalan, melangkah melakukan amanat Tuhan Yesus, untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia!
Alangkah luar biasanya kekuatan damai sejahtera dari Allah, tertulis di dalam Filipi 4:4-9 ”...Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus...” dan ”...Maka Allah sumber damai sejahtera akan menyertai kamu...”
Keyakinan inilah yang harus kita pegang teguh! Yesus telah bangkit! Dia adalah Sumber Damai Sejahtera bagi kita! Dia memberikan damai sejahtera untuk kita alami dan sebarkan, kita bagikan, kita beritakan kepada semua orang. Yesus Sang Damai akan menyertai kita selama-lamanya!
Amin!
By:Gereja kristus & kristus ajaib
Tidak ada komentar:
Posting Komentar