Bagian ini akan membahas prinsip apa sajakah yang diperlukan ketika seseorang bertindak atas nama Tuhan. Adapun prinsip-prinsip yang dimaksud, akan diambil secara induktif dari tindakan Daud. Hal apa sajakah yang perlu ada di dalam sebuah tindakan yang mengatasnamakan Tuhan, sehingga ketika diterapkan menjadi efektif?
Pengatasnamaan Tuhan dengan Motivasi yang Benar
Daud ia tidak datang ke medan pertempuran untuk kepentingannya sendiri, untuk mendapatkan imbalan, atau kemashyuran semata, bahkan Daud menolak ketika Saul hendak memberikan anaknya sebagai imbalan yang dijanjikan (1 Sam. 18:18, 23). Meskipun dengan kata-kata yang agak ekstrim, pendapat Holdcroft mendukung pernyataan ini: “Alkitab melewatkan fakta bahwa kekayaan dan pernikahan dengan putri raja (ay. 25) yang dijanjikan kepada orang yang membunuh Goliat kelihatanya tidak dianugerahkan kepada Daud.” Meskipun Alkitab tidak menyebutnya secara spesifik, tetapi dari alur cerita dalam kisah ini terlihat jelas bahwa Daud tidak menerima hadiah yang dijanjikan Saul, sehingga tidak bisa dikatakan bahwa “Alkitab melewatkan”. Secara logis dapat dipahami bahwa seberarnya Daud bisa memintanya serta imbalan lain yang sudah dijanjikan raja kepada setiap orang yang bisa mengalahkan Goliat (1 Sam. 17: 25). Ini adalah janji seorang raja, dengan demikian sangat besar peluanng untuk mendapatnya. Sekali lagi, hal tersebut tidak dilakukan oleh Daud, karena bukan materi maupun imbalan untuk kepentingannya sendiri yang menjadi motivasi bagi Daud. Tetapi yang menjadikan Daud maju melawan Goliat adalah tindakan Goliat yang mencemooh barisan Allah yang hidup, yang berarti mencemooh Allah sendiri.
Motivasi Daud yang bukan untuk dirinya sendiri ini telihat jelas di dalam perkataan yang ia sampaikan:
“Hari ini juga TUHAN akan menyerahkan engkau ke dalam tanganku dan aku akan mengalahkan engkau dan memenggal kepalamu dari tubuhmu; hari ini juga aku akan memberikan mayatmu dan mayat tentara orang Filistin kepada burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang liar, supaya seluruh bumi tahu, bahwa Israel mempunyai Allah, dan supaya segenap jemaah ini tahu, bahwa TUHAN menyelamatkan bukan dengan pedang dan bukan dengan lembing. Sebab di tangan Tuhanlah pertempuran dan Iapun menyerahkan kamu ke dalam tangan kami."
Keberhasilan yang Daud harapkan tidak untuk dirinya sendiri, tetapi keberhasilan yang ia harapkan akan menunjukkan eksistensi Allah kepada seluruh bumi, dan menunjukkan jika Yahweh adalah Pribadi yang berkuasa menyelamatkan. Dengan kata lain Daud melakukan semuanya itu karena ia mengasihi Allah dengan segenap keberadaannya bahkan mempertaruhkan nyawanya sendiri (1 Sam. 16:7; bnd. 1 Taw 16:10-11).
Keberhasilan yang dicita-citakan Daud ketika maju menghadapi Goliat, akan dipersembahkan bagi Tuhan saja.
Jaminan di dalam pertempuran ini diberikan oleh Tuhan, musuh di dalam pertempuran ini adalah musuh Tuhan, pasukan yang hendak berperang adalah pasukan Tuhan, komandan pertempuran ini adalah Tuhan sendiri, keberhasilan dalam pertempuran ini adalah untuk Tuhan, dan akhir dari pertempuran ini adalah untuk kemuliaan Tuhan.
Jadi keberhasilan Daud di dalam pertempuran ini, diperoleh Daud karena yang salah satu faktor yang ia miliki yang adalah motivasi yang benar yaitu untuk memuliakan Tuhan. Motivasi ini ditempatkan Daud di atas kepentingan pribadinya.
Pengatasnamaan Tuhan dengan Metode yang Benar
Selain motivasi, keberhasilan yang diperoleh oleh Daud juga dikarenakan Daud memakai metode yang benar. Metode yang dimaksud di sini adalah mengacu pada alat, sikap serta cara yang digunakan oleh Daud ketika maju melawan Goliat. Dengan melihat apa yang dibawa Daud dan apa yang dibawa Goliat, akan terlihat jelas perbedaan alat maupun cara yang digunakan. Selain peralatan yang lengkap sebagai sesuatu yang sangat diandalkannya, Goliat begitu menyombongkan dirinya dan merendahkan Daud melalui perkataannya. Sedangkan Daud tidak memakai peralatan perang yang seharusnya dikenakan oleh seorang prajurit yang hendak bertempur. Sangat berbeda dengan kesombongan Goliat, Daud mampu mengendalikan dirinya bahkan ketika ia diejek dan direndahkan bukan hanya oleh Goliat yang adalah musuhnya, tetapi juga Saul dan bahkan Eliab saudaranya sendiri.
Daud mampu mengatasi kemarahan, mampu mengatasi ketidak percayaan bukan hanya terhadap dirinya sendiri tetapi juga terhadap Allah, dan mampu mengatasi kebanggaan yang berlebihan dalam dirinya karena pengalamannya. Metode yang meliputi cara yang berbeda dari yang dilakukan oleh Goliat juga tercermin dari Kebergantungan Daud kepada TUHAN yang ia sembah. Di atas segala hal yang ia punya, pengalaman serta sikapnya, ia mengandalkan Tuhan yang berarti sebuah penyerahan total akan apa yang akan terjadi di depan bahkan hidup dan matinya ke dalam kuasa Tuhan (37, 45-47; Mzm. 33: 16-17; 44:7-8; Hos. 1:7). Singkatnya, Daud tidak mengandalkan dirinya sendiri, tetapi Allah ketika mengalahkan Goliat dan orang Filistin. Hal tersebut memang seharusnya dilakukan oleh Daud mengingat keberadaan Daud yang sebenarnya memiliki berbagai kekurangan, kelemahan dan keterbatasan.
Pengatasnamaan Tuhan dengan Optimisme
Optimisme Daud sangat terlihat di dalam beberapa bagian dari kisah pertempuran ini. Termasuk ketika berkali-kali ia direndahkan, disepelekan, diejek, dan bahkan hingga dikutuk (1 Sam. 17:28, 33, 43, 44). Tetapi setiap ejekan dan kata-kata yang merendahkannya ditangkis dengan jawaban-jawaban yang positif (1 Sam. 17:29, 30, 34-37, 45-47). Terhadap sikap Daud tersebut muncul reaksi orang lain yang negatif terhadap Daud, yang seharusnya mematahkan semangatnya dan membuatnya pesimis. tetapi tidak demikian yang terjadi pada Daud, optimismenya tetap ada dan tidak pernah berfikir untuk mengurungkan niatnya untuk melawan Goliat.
Semua hal tersebut bisa dikatakan sebagai sebuah tantangan bagi Daud, tetapi ia tidak menyerah terhadap tantangan itu, tetapi berusaha mengalahkan tantangan itu. Daud sangat bersemangat dan sangat memperhatikan kehormatan Tuhan Allah Israel (ay. 26, 36, 46). Ia menyadari bahwa Goliat bukan saja menentang bala tentara Israel, tetapi menentang Tuhan Yang Mahakuasa. Optimisme Daud juga dibangun dari pengalaman Daud terhadap kuasa Tuhan yang masih diingingatnya pada masa-masa sebelumnya ketika ia berdoa dan mengalami kelepasan dari Allah. Pengalamannya bersama dengan Tuhan yang membuat Daud mengerti akan kuasa Tuhan membuatnya yakin bahwa Allah yang sama; juga akan memberikan pertolongan kepada Daud di dalam pertempuran yang segera ia hadapi (ay. 34-37; bdn. Mzm. 29:3-4).
Ketenangan pribadi Daud ini mencerminkan iman yang dimilikinya, sehingga kemenangan yang diperoleh bukan menjadi hal yang mengejutkan baginya, sekalipun tampaknya sangat mengejutkan bagi semua orang yang menyaksikan peristiwa itu. Demikian bagi orang yang melihatnya.
Kemenangan Daud tersebut, tidak hanya berhenti sampai bagian ini saja, tetapi membawa dampak yang luar biasa bagi kedua kubu yang sedang berhadapan.
Bagi Filistin menjadi sebuah ketakutan yang luar biasa, sehingga mereka melarikan diri. Tetapi bagi orang Israel, peristiwa tersebut justru membangkitkan semangat dan kepercayaan diri mereka. Setelah pembunuhan Goliat oleh Daud, orang Filistin dikalahkan habis-habisan, mereka dikejar hingga dekat Gat dan sampai pintu gerbang Ekron. Orang-orang Filistin bergelimpangan di jalan ke Saarim, sampai Gat dan sampai Ekron, serta menjarah perkemahan mereka dijarah oleh orang-orang Israel.
Pengatasnamaan dengan sebuah Tindakan
Selain prinsip tentang motovasi yang benar, metode yang benar, serta optimisme yang harus dimiliki di dalam pemakaian konsep pengatasnamaan Tuhan; sesuai dengan pengamatan penulis, salah satu prinsip yang juga dapat diambil adalah adanya sebuah tindakan yang harus dilakukan. Ketiga hal tersebut sudah ada pada Daud, namun tidak akan berarti apa-apa jika tanpa disertai sebuah keputusan untuk maju ke medan perang untuk mengalahkan Goliat.
Lalu Daud mengambil tongkatnya di tangannya, dipilihnya dari dasar sungai lima batu yang licin dan ditaruhnya dalam kantung gembala yang dibawanya, yakni tempat batu-batu, sedang umbannya dipegangnya di tangannya. Demikianlah ia mendekati orang Filistin itu.
Ayat ini menerangkan tentang tindakan nyata yang dilakukan oleh Daud untuk memperoleh keberhasilan yang ia harapkan.
Prinsip yang ini menekankan tentang perlunya sebuah keberanian untuk melangkah dan bertindak. Motivasi, metode, maupun optimisme belum cukup untuk mendapatkan sebuah keberhasilan, seperti yang dilakukan oleh Daud ada action, dan bukan hanya pasif, berpangku tangan, menunggu, serta melihat saja. Lalu kemudian mengharapkan Goliat jatuh tersandung, kepalanya terantuk batu dan mati. Tetapi bukan berarti juga bahwa Allah tidak sanggup melakukan hal-hal yang demikian dengan keberadaanya yang Mahakuasa. Allah Mahakuasa berarti Allah mampu melakukan apa saja yang dikehendakinya, yang selaras dengan natur dan kesempurnaannya.
Beberapa peristiwa yang dicatat di dalam Alkitab, Allah menghendaki peran serta manusia ketika hendak melakukan sesuatu untuk manusia itu sendiri. Sebagai contoh ketika orang Israel di bawah komando Yosua mengalahkan kota Yerikho. Pertanyaan yang sering muncul adalah, mengapa orang Israel harus berkeliling sekian hari? Mengapa bangsa Israel harus berkeliling sekian kali? dan mengapa bangsa Israel harus bersorak pada saat yang ditentukan? bukankah Allah Mahakuasa dan tidak memerlukan semuanya itu untuk mengalahkan Yerikho? jawaban yang praktis dari pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah karena Allah ingin peran serta bangsa Israel di dalam kemenangan yang hendak Ia berikan. Jadi demikian juga dengan Daud, Allah menghendaki sebuah tindakan dari Daud meskipun kemenangan yang ia peroleh diberikan oleh Allah.
By Gkr jakarta
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar